Beranda » Berita » Pulau Kharg: AS Siapkan Serangan Darat ke Iran Terbaru 2026

Pulau Kharg: AS Siapkan Serangan Darat ke Iran Terbaru 2026

Sarimulya.id – Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah mengirim ribuan prajurit ke Timur Tengah. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington tengah bersiap melancarkan serangan darat dengan target menduduki Pulau Kharg di Teluk Persia per 30 Maret 2026.

Presiden AS saat itu, Donald Trump, menyampaikan keinginannya untuk “mengambil alih minyak Iran” kepada *Financial Times*, seperti dilansir *Independent*. Bahkan, Trump membuka kemungkinan penggunaan tentara Amerika Serikat untuk merebut Pulau Kharg yang kaya akan sumber daya alam.

Mengapa Pulau Kharg Jadi Incaran AS?

Pulau Kharg memegang peranan vital dalam industri perminyakan Iran. Per 2026, pulau ini memproses sekitar 90 persen minyak Iran untuk keperluan ekspor. Jika AS berhasil merebut Pulau Kharg melalui serangan darat, dampaknya sangat besar bagi Teheran.

Pengambilalihan ini berpotensi menciptakan disrupsi besar pada perdagangan energi Iran. Alhasil, ekonomi Iran akan mendapatkan tekanan yang sangat signifikan.

Posisi Strategis Pulau Kharg di Teluk Persia

Pulau kecil ini terletak hanya sekitar 25 kilometer dari lepas pantai utara Iran. Lokasinya tidak jauh dari Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dikuasai penuh oleh IRGC (Korps Garda Revolusi Islam) untuk mengontrol lalu lintas kapal tanker.

Namun, para analis memperingatkan bahwa pendudukan Pulau Kharg oleh AS, meski terkesan cepat, berpotensi memicu peperangan yang lebih luas dan berkepanjangan, alih-alih memberikan kemenangan cepat bagi AS dan sekutunya, Israel.

Tantangan dan Risiko Serangan Darat ke Pulau Kharg

Mantan komandan di US Centcom (Komando Pusat AS), Joseph Votel, mengungkapkan kepada *TWZ.com* bahwa meskipun hanya diperlukan sekitar 800 hingga 1.000 tentara untuk menduduki Pulau Kharg, dukungan logistik dalam jumlah besar mutlak diperlukan agar operasi darat berhasil.

Baca Juga:  Emil Audero: PSSI Awards 2026 Pacu Semangat Bela Timnas!

Votel menambahkan bahwa pasukan AS akan sangat rentan terhadap serangan. Ia meragukan upaya perebutan pulau tersebut akan memberikan keuntungan taktis yang signifikan bagi AS. “Itu akan menjadi sebuah hal yang ganjil dilakukan… Tapi bisa dilakukan jika kita harus melakukannya,” ujar Votel.

Pasukan AS juga menghadapi risiko tinggi dari serangan rudal dan drone begitu tiba di Pulau Kharg. Juru bicara parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Ahad (29/3/2026), menegaskan bahwa Iran siap dan menunggu kedatangan pasukan AS serta siap untuk “membakar mereka”.

Reaksi Iran dan Negara-Negara Teluk

“Musuh mengisyaratkan negosiasi di publik, sementara secara rahasia membuat plot sebuah serangan darat,” tegas Ghalibaf, seperti dikutip media lokal Iran. Teheran menuduh Trump menggunakan retorika negosiasi sebagai kedok untuk menutupi pergerakan pasukan AS ke Timur Tengah dalam rangka melancarkan serangan darat.

Sekutu AS di Teluk Persia pun telah memperingatkan Washington agar tidak mengirim pasukan ke daratan Iran. Seorang pejabat di negara Teluk kepada *Reuters* mengatakan bahwa operasi militer darat berpotensi memicu serangan balik Iran terhadap infrastruktur sipil dan energi di kawasan tersebut.

Ancaman Balasan Iran Jika AS Nekat Serang

Ketegangan di kawasan terus meningkat seiring dengan potensi serangan AS ke Pulau Kharg. Sebelumnya, Iran telah beberapa kali melontarkan ancaman terkait penutupan Selat Hormuz jika AS melancarkan serangan darat.

Selain itu, Iran juga memberikan izin kepada kapal-kapal tanker Malaysia untuk melewati Selat Hormuz setelah lobi yang dilakukan oleh Anwar Ibrahim.

Kesimpulan

Situasi di Timur Tengah per Maret 2026 sangatlah tegang dengan potensi serangan darat AS ke Pulau Kharg di Iran. Meski Pulau Kharg memiliki nilai strategis bagi AS, risiko dan konsekuensi dari serangan ini sangat besar dan dapat memicu konflik yang lebih luas.

Baca Juga:  Hukuman Mati Palestina: Israel Setujui UU Kontroversial

Dunia internasional berharap agar semua pihak terkait dapat menahan diri dan mencari solusi damai untuk menyelesaikan perbedaan demi menjaga stabilitas dan keamanan kawasan.