Sarimulya.id – Banjir melanda tujuh desa di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Senin (6/4/2026) sore setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Peristiwa ini memicu luapan air Sungai Cimanceuri dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter hingga 1,5 meter.
Ribuan warga mengalami dampak langsung dari bencana ini. Pihak otoritas menyatakan bahwa kenaikan debit air yang drastis menyulitkan mobilitas masyarakat di beberapa wilayah terdampak selama Senin malam.
Penyebab Banjir Tigaraksa dan Data Kerusakan
Hujan deras dalam dua hari terakhir memicu peningkatan debit air Sungai Cimanceuri secara signifikan. Selain intensitas hujan yang tinggi, kiriman air dari wilayah Bogor turut memperparah kondisi banjir di Tigaraksa. Faktanya, jebolnya tanggul anak sungai semakin mempercepat aliran air masuk ke pemukiman penduduk.
Camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied menyebutkan bahwa wilayah yang terdampak meliputi Desa Margasari, Matagara, Pasir Nangka, Cisereh, Pematang, Pasir Bolang, serta Kelurahan Kadu Agung. Data sementara menunjukkan sebanyak 512 rumah warga terendam air. Lebih dari itu, sebanyak 1.675 jiwa warga terpaksa berhadapan dengan situasi sulit ini.
Di Perumahan Mustika Tigaraksa misalnya, air merendam sekitar 150 rumah warga. Ketinggian air di lokasi ini bervariasi antara 30 sentimeter hingga 1 meter sejak Minggu hingga Senin malam. Tentunya, warga sangat merasakan dampak kerugian harta benda akibat terjangan air tersebut.
Langkah Penanganan Darurat Pemerintah Daerah
Pemerintah Kecamatan Tigaraksa bergerak cepat mengatasi situasi lapangan. Mereka mengoordinasikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan kepada korban. Pemerintah menyediakan perahu karet guna mempermudah mobilitas warga yang terjebak di rumah.
Tabel berikut merinci kondisi penanganan banjir terkini di lokasi terdampak:
| Kategori Penanganan | Tindakan |
|---|---|
| Infrastruktur | Perbaikan tanggul sementara menggunakan karung pasir |
| Logistik | Penyediaan dapur umum di titik evakuasi |
| Mobilitas | Penyediaan perahu karet untuk evakuasi |
Menariknya, pemerintah sudah menyiapkan langkah perbaikan infrastruktur permanen melalui anggaran perubahan. Oleh karena itu, masyarakat bisa mengharapkan solusi yang lebih tahan lama ke depannya. Sebagai tindakan awal, tim teknis telah menambal lubang tanggul menggunakan karung pasir secara darurat.
Evakuasi Warga dan Dapur Umum
Sebagian warga terpaksa mengungsi karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk dihuni. Mereka memilih pergi ke rumah kerabat terdekat atau memanfaatkan tempat ibadah sebagai lokasi sementara. Singkatnya, keselamatan keluarga menjadi prioritas utama bagi penduduk setempat saat ini.
Pemerintah daerah mengantisipasi potensi genangan yang bertahan lebih lama. Pasalnya, mereka mulai membuka dapur umum di beberapa lokasi untuk memastikan ketersediaan kebutuhan pokok warga. Langkah ini efektif memberi bantuan nutrisi bagi mereka yang kehilangan akses masak di rumah sendiri.
Rencana Normalisasi Sungai Cimanceuri
Kabupaten Tangerang mulai merancang strategi jangka panjang untuk mencegah banjir serupa terulang. Pemerintah berencana memperbaiki tanggul di kawasan Mustika Tigaraksa secara menyeluruh. Selain itu, normalisasi Sungai Cimanceuri masuk dalam agenda prioritas dinas terkait demi kelancaran aliran air ke hilir.
Dengan melakukan normalisasi sungai, pemerintah berharap area resapan jauh lebih optimal. Masyarakat tentu mendambakan lingkungan yang aman dari ancaman luapan air yang rutin terjadi. Ke depan, pengawasan terhadap tanggul anak sungai akan semakin ditingkatkan agar tidak ada lagi kebocoran yang merugikan masyarakat luas.
Pemerintah daerah berkomitmen menuntaskan masalah infrastruktur utama di Tigaraksa. Sinergi antara dinas sosial dan BPBD menjadi kunci dalam merespons bencana secara cepat. Masyarakat tetap harus terus waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang mungkin kembali terjadi di wilayah masing-masing.