Sarimulya.id – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuntut rakyat Amerika Serikat agar segera melakukan audit terhadap pemerintah mereka terkait keterlibatan dalam apa yang ia sebut sebagai perang agresif di Asia Barat. Permintaan ini muncul setelah eskalasi konflik yang melibatkan serangan langsung terhadap fasilitas militer serta sektor strategis Iran sepanjang 2026.
Esmaeil Baghaei menyampaikan seruan ini melalui kantor berita semi-resmi Iranian Students’ News Agency (ISNA) pada Senin (2026). Ia menekankan bahwa publik Amerika Serikat perlu memantau tindakan serta kejahatan yang otoritas negara tersebut lakukan atas nama warga negaranya karena tindakan itu merugikan stabilitas kawasan.
Pemerintah Iran sendiri menegaskan komitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi selama 2026. Fokus kebijakan domestik ini tetap berjalan di tengah situasi geopolitik yang kian tidak menentu akibat intervensi militer asing.
Pemicu Eskalasi Militer Iran dan Amerika Serikat
Militer Iran secara resmi mengonfirmasi kematian empat perwira angkatan darat mereka dalam kontak senjata langsung melawan pasukan Amerika Serikat di Provinsi Isfahan, Minggu dini hari (2026). Pertempuran intens ini melibatkan jet tempur, helikopter, serta drone bersenjata milik pihak Amerika Serikat.
Keempat perwira yang gugur tercatat memiliki pangkat mulai dari Letnan Satu hingga Brigadir Jenderal. Data militer menunjukkan unit tersebut sempat menembakkan rudal panggul ke arah pesawat tempur Amerika Serikat sebelum serangan udara balasan memicu dampak fatal bagi para personel tersebut.
Selain itu, ketegangan semakin memuncak saat Organisasi Energi Atom Iran melontarkan kecaman keras terhadap serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan fasilitas produksi yellowcake Shahid Rezayee Nejad di Ardakan, Provinsi Yazd. Padahal, fasilitas ini memegang peranan krusial dalam siklus bahan bakar nuklir nasional.
Menariknya, organisasi nuklir ini menyatakan bahwa teknologi nuklir Iran bertujuan melayani perdamaian dan kesehatan umat manusia. Mereka menegaskan bahwa bom berat sekalipun tidak akan pernah menghentikan jalur nuklir negara tersebut.
Dampak Kemanusiaan dan Sektor Fasilitas Nuklir
Kementerian Kesehatan Iran merilis data mengejutkan mengenai besarnya korban jiwa sejak konflik pecah di tahun 2026. Laporan tersebut mencatat ratusan warga sipil kehilangan nyawa akibat gempuran udara yang pihak Amerika Serikat dan Israel lakukan.
| Kategori Korban/Kerusakan | Jumlah Total |
|---|---|
| Anak di bawah 18 tahun | 220 jiwa |
| Perempuan | 254 jiwa |
| Ambulans rusak | 41 unit |
| Petugas medis gugur | 25 orang |
Faktanya, pihak militer juga melaporkan bahwa serangan di sekolah perempuan di wilayah selatan Iran telah menewaskan 160 orang. Selain itu, kerusakan pada fasilitas nuklir Bushehr mengakibatkan satu orang tewas, sementara militer Israel menyerang pabrik uranium dan reaktor air berat secara signifikan.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sempat melaporkan kerusakan pada fasilitas Ardakan sejak Maret 2026, namun tidak mendeteksi kenaikan tingkat radiasi yang berbahaya. Meski begitu, serangan terhadap fasilitas damai tetap menjadi pelanggaran nyata bagi Iran.
Tanggapan Iran terhadap Retorika Donald Trump
Anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, Saeed Jalili, menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin menghabisi Iran dalam satu malam. Saeed Jalili berpendapat bahwa pernyataan provokatif tersebut justru membantu Iran dalam memaparkan wajah asli kebijakan luar negeri Amerika Serikat kepada masyarakat dunia.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menuntut Iran agar membongkar fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan. Washington bahkan menuntut Teheran menyerahkan 10.000 kg uranium dalam perundingan permanen di Jenewa yang akan datang.
Sebagai langkah diplomasi, Iran akan menjadi tuan rumah pertemuan trilateral tingkat tinggi dengan Rusia dan Tiongkok pada tahun 2026 ini. Utusan Khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, menyebut bahwa putaran awal perundingan nuklir akan terlaksana dalam 1-2 minggu ke depan.
Hingga saat ini, baik Amerika Serikat maupun Israel masih memilih diam terkait rincian jumlah korban dan serangan yang Iran laporkan. Situasi di kawasan Asia Barat masih tetap tegang dengan berbagai dinamika perundingan yang terus berlangsung sepanjang tahun 2026.
Dunia pun kini memperhatikan bagaimana kedua belah pihak akan melangkah selanjutnya di meja perundingan. Dengan segala tekanan yang ada, Iran terus menekankan kedaulatan negara melalui jalur diplomatik maupun militer sembari menghadapi tantangan internasional yang semakin kompleks di tahun 2026 ini.