Beranda » Berita » Harga Minyak AS Bertahan di Atas US$110 per Barel per 2026

Harga Minyak AS Bertahan di Atas US$110 per Barel per 2026

Sarimulya.id – Harga minyak mentah Amerika Serikat bertahan di atas level US$110 per barel pada April 2026. Lonjakan harga ini muncul setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat drastis akibat sikap tegas Iran terhadap tenggat waktu Presiden AS Donald Trump terkait akses Selat Hormuz.

Selat Hormuz berfungsi sebagai jalur perdagangan energi paling vital di dunia saat ini. Penolakan Teheran terhadap tuntutan Washington memicu kekhawatiran serius pasar global mengenai potensi gangguan pasokan minyak mentah dalam jangka panjang per 2026.

Pasar dunia memberikan reaksi cepat terhadap ketidakpastian tersebut. Faktanya, para pelaku pasar terus mengamati pergerakan harga secara intensif sejak awal pekan ini.

Dinamika Harga minyak mentah AS di Pasar Global

Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Mei 2026 mengalami penurunan 0,5% menjadi US$110,99 per barel. Sebelumnya pada Kamis, kontrak tersebut mencetak rekor tertinggi dalam lebih dari tiga tahun dengan penutupan di angka US$111,54 menurut data Dow Jones Market Data.

Di sisi lain, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni 2026 juga turun 0,6% ke level US$108,41 per barel. Penurunan ini menyusul tren kenaikan 3,5% pada pekan sebelumnya yang menandai kemenangan mingguan ketujuh berturut-turut.

Berikut ringkasan performa harga energi berdasarkan data terbaru 2026:

Jenis Minyak Kondisi Terakhir
WTI Crude (Pengiriman Mei) US$110,99 per barel
Brent Crude (Pengiriman Juni) US$108,41 per barel

Respons OPEC+ terhadap Gangguan Pasokan

Delapan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Kesepakatan ini berlangsung pada Minggu (5/4) sebagai langkah antisipasi kenaikan bulan kedua berturut-turut.

Baca Juga:  Update Belanja Pemerintah di Kaltim Sentuh Rp1,69 Triliun - Cek Info Terbaru!

OPEC+ menyatakan keprihatinan mendalam mengenai serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur energi global. Mereka menekankan bahwa pemulihan aset energi yang rusak memerlukan biaya sangat besar dan waktu cukup lama.

Akibatnya, ketersediaan pasokan minyak mentah dunia menghadapi risiko kelangkaan jangka panjang. Situasi ini tentu memengaruhi stabilitas pasar energi secara keseluruhan sepanjang tahun 2026.

Tantangan Diplomatik antara Washington dan Teheran

Stephen Innes, mitra pengelola di SPI Asset Management, menyebut perdagangan minyak mentah tidak lagi mengikuti neraca penawaran dan permintaan normal. Pengetatan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut membuat pasar bereaksi sangat sensitif.

Pasar terus mencoba menghitung probabilitas gencatan senjata yang hingga kini belum muncul. Menariknya, Innes mencatat bahwa serangan AS terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran mengubah fokus utama perdebatan dari sekadar ketegangan regional menjadi seberapa cepat rantai pasokan dunia bisa kembali normal.

Selain itu, jubir Kemenlu Iran menyebut tindakan AS di Asia Barat sebagai bentuk ketidakadilan besar. Laporan terkini mencatat adanya dampak signifikan terhadap fasilitas nuklir di Ardakan di tengah konflik yang memanas di tahun 2026.

Implikasi Ekonomi Global dan Inflasi

Jika harga minyak mentah AS tetap bertahan di atas US$110 per barel, tekanan inflasi global diprediksi akan meningkat tajam. Negara-negara importir minyak akan memikul beban biaya energi yang sangat tinggi di masa depan.

Beban biaya ini pada akhirnya memengaruhi harga barang konsumsi dan biaya transportasi di berbagai belahan dunia. Tidak hanya itu, masyarakat global perlu bersiap menghadapi kenaikan harga yang mungkin terjadi akibat rantai pasokan energi yang terhambat.

Pemerintah sendiri tetap memiliki komitmen kuat untuk menjaga daya beli publik. Seluruh kebijakan fiskal tahun 2026 mengacu pada komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi selama tahun 2026.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: KPK Ungkap Dua Klaster Kasus Yaqut

Ketidakpastian Politik dan Dampak Sektoral

Upaya gencatan senjata 45 hari antara AS dan Iran menemui jalan buntu total. Presiden Donald Trump justru melayangkan ancaman keras untuk menghancurkan jembatan serta pembangkit listrik Iran dalam durasi empat jam.

Teheran merespons ancaman tersebut melalui pihak ketiga dengan menguraikan tuntutan berdasarkan kepentingan nasional mereka. Ketegangan ini makin diperkeruh oleh isu medis di mana pernyataan Presiden Trump mengenai kaitan Tylenol (acetaminophen) dengan autisme memicu kekacauan di kalangan ilmuwan dan gugatan hukum.

Pada akhirnya, solusi damai tetap menjadi harapan utama komunitas internasional untuk menghindari krisis energi yang lebih mendalam. Namun, posisi keras dari kedua belah pihak membuat harga minyak mentah tetap berada dalam tren bullish yang kuat sepanjang kuartal kedua 2026.

Ketahanan ekonomi setiap negara importir akan sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam memitigasi dampak dari harga energi global yang tinggi ini. Stabilitas politik regional di Timur Tengah tetap menjadi kunci utama penurunan tensi harga minyak mentah di masa depan.