Sarimulya.id – UIN Walisongo Semarang menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-56 pada Senin, 6 April 2026. Perhelatan yang berlangsung di Gedung Tgk Ismail Yakub ini menegaskan komitmen institusi sebagai pusat ilmu pengetahuan sekaligus suara kemanusiaan bagi dunia.
Sebanyak 500 civitas akademika dan tamu undangan hadir memenuhi ruangan dengan nuansa formal. Para peserta mengenakan batik sebagai representasi identitas budaya nasional yang kuat. Suasana sidang berlangsung khidmat, hangat, dan menunjukkan semangat kebersamaan seluruh elemen kampus.
UIN Walisongo Semarang sebagai Mercusuar Ilmu dan Kemanusiaan
Sekretaris Senat, Prof. Ibnu Hadjar, memimpin pembukaan sidang dengan menyampaikan pesan penting. Ia menekankan bahwa civitas akademika harus beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar jati diri keislaman. Dengan demikian, kampus mampu mempertahankan relevansinya di tengah masyarakat global.
Selanjutnya, Prof. Ibnu Hadjar menegaskan bahwa kampus wajib meningkatkan kualitas pendidikan serta tata kelola yang akuntabel. Keberhasilan institusi bergantung pada kemampuan melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual. Tidak hanya itu, mahasiswa juga perlu memiliki kepekaan sosial yang tinggi sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat.
Bahkan, ia mengajak seluruh keluarga besar UIN Walisongo untuk menjadikan kampus sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Hal ini menjadi target utama agar pengaruh kampus meluas melampaui batas-batas akademik konvensional.
Refleksi Perjuangan dan Target Visi 2038
Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., memaparkan laporan tahunan dalam kesempatan tersebut. Ia mengajak seluruh pihak untuk merefleksikan kembali perjalanan panjang kampus sejak berdiri. Usia ke-56 bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat tanggung jawab besar bagi seluruh sivitas akademika.
Saat ini, kampus tengah memfokuskan diri mencapai visi universitas risalah berbasis kesatuan ilmu untuk kemanusiaan dan peradaban pada tahun 2038. Berdasarkan data per 2026, UIN Walisongo mengelola sumber daya manusia yang mumpuni untuk mendukung visi tersebut.
| Data Akademik | Jumlah |
|---|---|
| Jumlah Dosen | 640 orang |
| Jumlah Guru Besar | 76 orang |
| Jumlah Mahasiswa Aktif | 21.408 orang |
| Target Mahasiswa Baru 2026 | 5.915 orang |
Lebih dari itu, prestasi mahasiswa selama tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Mahasiswa UIN Walisongo berhasil mengumpulkan 40 penghargaan internasional dan 70 penghargaan tingkat nasional. Selain itu, pihak kampus menyalurkan berbagai jenis beasiswa kepada 2.450 mahasiswa sebagai bentuk dukungan finansial.
Peran Tenaga Medis dalam Merawat Kemanusiaan
Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M.Biomed., menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Merawat Bumi, Merawat Kemanusiaan. Ia menekankan bahwa tugas civitas akademika tidak hanya mencetak profesional di bidangnya, tetapi juga menjadi penjaga kehidupan.
Fakultas Kedokteran terus mengembangkan terapi regeneratif berbasis stem cell untuk menjawab tantangan penyakit berat masa kini. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan teknologi harus disertai dengan pengabdian nyata hingga pelosok daerah. Dengan memiliki keberanian moral, dokter lulusan UIN Walisongo mampu menghadapi berbagai tantangan ketidakadilan global.
Bahkan, ia memberikan sindiran keras mengenai mentalitas inferior bangsa melalui pantun: “Buah belimbing dijual di Pasar Asemka, hanya kambing yang takut kepada Amerika.” Melalui pantun tersebut, ia mengingatkan hadirin bahwa bangsa Indonesia memiliki harga diri yang tangguh dan tidak mudah menggoyahkan pendiriannya.
Dukungan bagi Pengembangan Pendidikan Islam
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan bagi UIN Walisongo. Ia menginginkan agar kampus tetap menjadi pelopor sinergi antara nilai keislaman, keilmuan, dan kepedulian terhadap kelestarian bumi. Hal ini selaras dengan kebutuhan akan generasi masa depan yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, juga mengirimkan apresiasi atas dedikasi kampus dalam mengembangkan pendidikan Islam moderat. Ia menyatakan bahwa nama Walisongo membawa warisan nilai yang sangat berharga bagi civitas akademika. Kampus ini harus terus melahirkan insan yang cerdas intelektual, arif secara spiritual, dan peka secara sosial.
Pada akhirnya, perayaan Dies Natalis ini menjadi titik tolak bagi seluruh civitas akademika untuk menyatukan ilmu, nurani, dan keberanian. Jika ilmu tanpa nurani, maka ia menjadi alat kekuasaan semata. Sebaliknya, jika nurani tanpa keberanian, maka ia menjadi bisikan yang hilang di tengah keriuhan dunia.