Beranda » Berita » Gus Salam Ketum PBNU? Cucu Pendiri NU Muncul di IKA PMII Jombang

Gus Salam Ketum PBNU? Cucu Pendiri NU Muncul di IKA PMII Jombang

Sarimulya.id – Kiai Abdussalam Shohib alias Gus Salam, cucu pendiri NU, mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada acara Halal Bihalal Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (IKA PMII) Jombang. Pengumuman ini sontak disambut meriah oleh para hadirin yang memadati lokasi acara Halal Bihalal IKA PMII Jombang tersebut.

Gus Salam, yang juga pengasuh PP Mambaul Ma’arif, menyatakan bahwa pencalonannya ini merupakan perintah dari para kiai. Ia berjanji akan menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Lalu, apa sebenarnya yang melatarbelakangi keputusan Gus Salam ini? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

Gus Salam: Ikhtiar Jadi Ketum PBNU 2026

Dalam acara yang berlangsung Minggu, 12 April 2026, Gus Salam mengungkapkan bahwa dirinya mendapat perintah untuk berikhtiar menjadi Ketum PBNU pada Muktamar ke-35 NU yang akan digelar Agustus-September 2026 mendatang. “Ini soal niat, menata niat ikut kandidat calon Ketua Umum PBNU. Dan, saya sam’an wa tho’atan menjalankan perintah dan berikhitar maksimal memenuhi perintah para guru, sesepuh dan masyayikh pesantren dan NU,” ujarnya.

Meski tidak menjelaskan secara detail alasan di balik perintah tersebut, Gus Salam meyakini bahwa para intelektual NU dan Nahdliyyin memahami kondisi PBNU dan NU secara umum dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga berharap mendapatkan doa restu, nasehat, serta masukan dari para kiai dan intelektual NU demi kelancaran niatnya untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU.

Baca Juga:  Karakter Menakjubkan Anak Ketika Orang Tua Lebih Sering Mendengarkan

Apresiasi dari IKA PMII Jombang

Ketua PC IKA PMII Jombang, Kiai Amir Maliki Abi Thalchah, menyambut baik niat Gus Salam untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Menurutnya, Gus Salam memiliki sanad yang kuat sebagai cucu dari salah satu pendiri NU, KH Bishri Syansuri.

“Gus Salam ini cucu muassis, bukan cicit atau buyut. Tapi, cucu; cucu hadratussyeikh KH Bishri Syansuri. Ini sanad terkuat, level cucu. Apalagi, Gus Salam ini sangat berpengalaman, kiai muda, energik dan mudah diterima di lingkungan NU,” tandasnya.

Muktamar NU ke-35: Pertarungan Gagasan dan Kepemimpinan

Muktamar NU ke-35 pada Agustus-September 2026 diprediksi akan menjadi ajang pertarungan gagasan dan kepemimpinan. Selain Gus Salam, figur-figur potensial lainnya diperkirakan juga akan meramaikan bursa calon Ketua Umum PBNU. Lalu, apa saja isu-isu strategis yang akan menjadi fokus dalam Muktamar NU 2026 ini?

Salah satu isu utama yang kemungkinan besar akan dibahas adalah terkait peran NU dalam menghadapi tantangan zaman. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan arah dan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa, mulai dari masalah sosial, ekonomi, hingga kebangsaan.

Kiprah Gus Salam di NU: Modal Kuat Menuju PBNU 1

Sebagai cucu pendiri NU, Gus Salam memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan tradisi dan nilai-nilai NU. Pengalamannya sebagai pengasuh pesantren juga menjadi modal penting dalam memahami dinamika dan kebutuhan masyarakat Nahdliyyin. Lantas, bagaimana peluang Gus Salam dalam bursa calon Ketua Umum PBNU 2026?

Beberapa kalangan menilai bahwa Gus Salam memiliki potensi besar untuk memimpin PBNU ke depan. Selain memiliki sanad yang kuat, ia juga dikenal sebagai sosok yang energik, inovatif, dan memiliki jaringan yang luas di berbagai kalangan. Namun, tantangan yang dihadapi Gus Salam juga tidak ringan. Ia harus mampu meyakinkan para muktamirin bahwa dirinya adalah sosok yang tepat untuk memimpin NU di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Baca Juga:  Armada Kapal Pertamina: Jaga Pasokan Energi Nusantara!

Update PBNU Per 2026: NU dan Tantangan Global

Per 2026, NU menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Isu-isu seperti perubahan iklim, intoleransi, radikalisme, dan kesenjangan ekonomi menjadi perhatian serius bagi NU. Bagaimana NU merespons tantangan-tantangan ini akan menjadi penentu arah organisasi di masa depan. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan inovasi juga menjadi kunci bagi NU untuk tetap relevan dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Oleh karena itu, pemimpin PBNU ke depan harus memiliki visi yang jelas dan kemampuan untuk membawa NU beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain itu, kemampuan untuk membangun kerjasama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri, juga menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global.

Kesimpulan

Pencalonan Gus Salam sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang menjadi momentum penting bagi NU. Sebagai cucu pendiri NU, Gus Salam memiliki potensi besar untuk membawa NU menuju era baru yang lebih relevan dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. Muktamar NU 2026 akan menjadi ajang penentuan arah NU ke depan, dengan berbagai gagasan dan ide-ide segar yang akan mewarnai diskursus organisasi.