Beranda » Berita » Adhi Karya Rugi Besar di 2026, Simak Laporan Keuangan Lengkapnya

Adhi Karya Rugi Besar di 2026, Simak Laporan Keuangan Lengkapnya

Sarimulya.id – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan rugi bersih sebesar Rp 5,40 triliun sepanjang tahun 2026. Angka ini mencerminkan lonjakan kerugian sangat tajam hingga 6.127% secara tahunan (year on year) dibandingkan realisasi tahun 2024 yang hanya menyentuh Rp 86,75 miliar.

Manajemen Adhi Karya merilis laporan keuangan tersebut pada hari Selasa (7/4). Perusahaan mencatat penurunan signifikan pada sisi pendapatan, di mana angka pendapatan per 2026 berada pada posisi Rp 9,6 triliun, turun 27,6% dari capaian tahun 2024 senilai Rp 13,35 triliun.

Profil Kinerja Keuangan Adhi Karya

Beban pokok pendapatan perseroan selama tahun 2026 mencapai Rp 8,61 triliun. Dengan begitu, perusahaan hanya berhasil membukukan laba bruto senilai Rp 1,04 triliun. Secara keseluruhan, perusahaan menunjukkan posisi aset sebesar Rp 28,8 triliun dengan liabilitas mencapai Rp 25,5 triliun per 31 Desember 2026. Alhasil, ekuitas perusahaan tersisa sebesar Rp 3,3 triliun, yang mencerminkan beban biaya penyehatan pada periode tersebut.

Meskipun menanggung beban keuangan berat, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) berbasis interest bearing debt masih berada di level 2,41 kali. Angka ini masih terjaga di bawah batas covenant yang ditetapkan perusahaan. Adhi Karya tetap menjaga struktur modal meski menghadapi tantangan yang sangat besar.

Penyebab Utama Lonjakan Kerugian ADHI

Manajemen ADHI menjelaskan bahwa lonjakan rugi bersih bersumber dari pembukuan biaya nonoperasional. Biaya tersebut muncul karena tiga langkah penyehatan yang perusahaan jalankan secara bersamaan. Pertama, perusahaan melakukan penyesuaian nilai wajar aset melalui program restrukturisasi BUMN karya yang Danantara inisiasi. Langkah ini memberi dampak material pada dua anak usaha, yaitu PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Commuter Properti Tbk.

Baca Juga:  Panduan Lengkap Cara Mengurus Izin Mendirikan Bangunan IMB Online 2026

Selain itu, sektor properti mengalami perlambatan hebat, sementara daya beli masyarakat melemah. Kondisi tersebut memicu koreksi nilai realisasi bersih (NRV) berdasarkan hasil appraisal Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Seluruh koreksi nilai tersebut masuk dalam catatan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

Kedua, perusahaan melakukan evaluasi CKPN atas piutang milik PT Adhi Persada Gedung. Anak usaha yang berfokus pada konstruksi gedung tersebut memiliki portofolio pelanggan yang sebagian besar berasal dari sektor properti. Kondisi industri yang tertekan bahkan memaksa beberapa klien menghadapi ancaman pailit.

Ketiga, perusahaan mengikuti temuan audit untuk melakukan pencadangan nilai secara konservatif. Kebijakan ini memastikan neraca keuangan perusahaan mencerminkan kondisi riil yang akurat meskipun secara langsung menggerus nilai laba dalam periode berjalan tahun 2026.

Detail Operasional dan Kontrak Baru 2026

Selama periode 2026, Adhi Karya berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp 18,1 triliun. Sektor engineering & konstruksi mendominasi dengan kontribusi mencapai 91%. Sisanya terbagi kedalam manufaktur sebesar 5%, property & hospitality sebesar 3%, serta investasi & konsesi sebesar 1%.

Segmen Proyek Porsi Kontribusi
Proyek Gedung 43%
Infrastruktur Sumber Daya Air 15%
Jalan dan Jembatan 14%
Sektor Lainnya 28%

Proyek pemerintah mendominasi pendanaan dengan porsi mencapai 69%. Kemudian, proyek BUMN berkontribusi sebesar 23%, sementara sektor swasta menyumbang sisa porsi yang ada. Total produksi perusahaan sepanjang 2026 mencapai Rp 16,6 triliun, di mana Rp 9,7 triliun di antaranya masuk sebagai pendapatan usaha non-joint operation (non-JO).

Proyek infrastruktur besar seperti Jalan Tol Yogyakarta–Bawen, Jalan Tol Yogyakarta–Solo–Kulon Progo, serta proyek PUSRI III-B menjadi motor penggerak pendapatan terbesar. Manajemen memastikan kinerja operasional di lapangan tetap berjalan efektif guna mendukung keberlangsungan proyek di masa depan.

Baca Juga:  Kesehatan APBN 2026: Menkeu Purbaya Buka Suara

Strategi dan Proyeksi Pemulihan Masa Depan

Manajemen Adhi Karya meyakini fondasi perusahaan tetap kuat meski laporan keuangan menunjukkan penyesuaian nilai yang masif. Perusahaan memiliki piutang dari proyek besar, seperti LRT Jabodebek dan Tol Aceh–Sigli. Realisasi piutang tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak arus kas perusahaan secara signifikan.

Selain fokus pada penagihan piutang, perusahaan mengarahkan perhatian pada pipeline proyek masa depan. Fokus utama kini terletak pada hilirisasi dan konsep green construction. Perseroan terlibat sebagai kontraktor dalam proyek hilirisasi antara lain proyek PUSRI IIIB, coal handling ICB milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan proyek PLTMG Tobelo.

Tidak hanya itu, perusahaan sedang melakukan pengembangan fasilitas pengelolaan lingkungan di kawasan industri Medan. Langkah ini membuka peluang besar pada proyek-proyek berbasis infrastruktur hijau. Memasuki tahun 2027, manajemen memproyeksikan belanja Kementerian Pekerjaan Umum dan capital expenditure (capex) anak usaha Danantara akan menjaga pertumbuhan pasar konstruksi nasional.

Danantara akan terus berkoordinasi dengan perusahaan dalam proses penyehatan keuangan. Fokus utama memasuki periode mendatang adalah peningkatan kualitas bisnis secara menyeluruh dan penguatan lini konstruksi. Perseroan juga berkomitmen melakukan streamlining bisnis melalui divestasi yang akuntabel sesuai dengan kaidah tata kelola perusahaan yang baik.

Dedikasi perusahaan untuk melakukan pembenahan internal dan fokus pada inovasi proses bisnis menjadi kunci pemulihan. Dengan tuntasnya pembukuan penyesuaian nilai pada tahun 2026, perseroan berharap bisa memberikan performa yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan setelah melewati masa transisi penyehatan ini.