Sarimulya.id – Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi., mengingatkan masyarakat akan pentingnya memilah informasi secara selektif di tengah maraknya isu perang global. Hal ini krusial untuk mencegah overthinking dan menjaga kesehatan mental masyarakat per 2026.
Pakar UI menekankan bahwa overthinking dapat memicu kecemasan berlebih, apalagi jika masyarakat terus-menerus terpapar informasi yang tidak akurat atau bahkan hoaks. Oleh karena itu, penting untuk mencari sumber informasi yang kredibel dan terpercaya terkait isu-isu sensitif seperti perang.
Pentingnya Memilah Informasi untuk Cegah Overthinking
Prof. Rose Mini, yang akrab disapa Bunda Romi, menjelaskan bahwa kondisi tertekan, stres, serta situasi sosial ekonomi yang tidak stabil dapat memicu overthinking. Bahkan, karakter perfeksionis dan rasa tidak percaya diri juga turut memperburuk keadaan ketika seseorang menghadapi situasi mencekam seperti isu perang yang beredar.
“Tiap manusia punya rencana, pada waktu rencananya itu kemungkinan akan gagal bila terjadi sesuatu, maka dia bisa berpikir sehingga membuat menjadi was-was. Apabila hal ini terjadi, maka informasi-informasi yang sifatnya sampah itu akan memperparah situasi dan memperparah tentang kesehatan mental seseorang,” jelas Prof. Romi, seperti dikutip pada Selasa, 31 Maret 2026.
Kenali Gejala Kecemasan Akibat Informasi yang Salah
Prof. Romi memaparkan sejumlah tanda kecemasan yang perlu masyarakat waspadai di tahun 2026. Tanda-tanda tersebut antara lain, sulit fokus, mudah merasa takut, hingga kebiasaan mempersiapkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Menariknya, kecemasan ini dapat memicu gejala fisik seperti jantung berdebar hingga perubahan perilaku, seperti takut keluar rumah atau menghindari aktivitas rutin.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala-gejala awal kecemasan dan mencari bantuan jika diperlukan.
Dukungan Emosional dari Orang Terdekat Jadi Kunci
Untuk mengatasi dampak negatif dari overthinking dan kecemasan akibat isu perang, Prof. Romi menekankan pentingnya dukungan emosional dari keluarga atau orang terdekat (*significant others*). Dukungan ini dapat membantu seseorang untuk kembali fokus pada realitas dan mengurangi pikiran-pikiran negatif yang menghantui.
“Kalau ada seperti ini, maka orang-orang di sekelilingnya, *significant others*-nya, itu harus memberikan satu dukungan untuk bisa dia kembali kepada realita. Jadi jangan terlalu berpikir negatif tentang segala macamnya,” imbau Prof. Romi.
Tips Mengatasi Overthinking Secara Mandiri
Selain dukungan dari orang terdekat, Prof. Romi juga memberikan sejumlah tips yang dapat masyarakat lakukan secara mandiri untuk mengatasi overthinking. Pertama, cobalah mengenali kemampuan diri. Kedua, tetaplah memantau lingkungan sekitar, namun lakukanlah sewajarnya. Terakhir, perkuat pendekatan spiritual sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
“Kita harus belajar untuk melihat kemampuan diri kita, membaca memang sedikit tentang apa yang ada di lingkungan. Tapi yang paling penting, percaya pada Allah atau Tuhan dengan cara dan ibadah dari tiap agama masing-masing,” pungkasnya.
Pentingnya Informasi Akurat di Era Digital 2026
Di era digital terbaru 2026 ini, informasi tersebar dengan sangat cepat dan mudah melalui berbagai platform media sosial. Namun, tidak semua informasi yang beredar tersebut akurat dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dan cermat dalam memilah dan memilih informasi yang akan dikonsumsi.
Pasalnya, informasi yang salah atau tidak akurat dapat memicu kecemasan, ketakutan, dan bahkan kepanikan di tengah masyarakat. Selain itu, informasi yang provokatif juga dapat memperkeruh suasana dan memicu konflik sosial.
Kesimpulan
Isu perang memang dapat memicu kecemasan dan overthinking. Akan tetapi, dengan memilah informasi secara bijak, mengenali gejala kecemasan, serta mendapatkan dukungan emosional dari orang terdekat, masyarakat dapat menjaga kesehatan mental dan menghadapi isu-isu global dengan lebih tenang dan rasional. Intinya, tetap tenang dan selektif dalam menerima informasi agar tidak terjebak dalam pusaran overthinking.