Sarimulya.id – PT Wijaya Karya Beton Tbk atau Wika Beton (WTON) mempertahankan performa positif dengan mencetak laba bersih di tengah tekanan sektor konstruksi pada tahun 2026. Perusahaan membukukan laba sebesar Rp 40,02 miliar meski menghadapi tantangan pasar yang membuat banyak emiten BUMN konstruksi lain mengalami kerugian.
Direktur Utama Wika Beton, Kuntjara, mengungkapkan bahwa keberhasilan menjaga profitabilitas ini berasal dari diversifikasi lini portofolio bisnis yang matang. Wika Beton mengoperasikan 14 pabrik beton dan satu unit mobile concrete untuk menopang berbagai proyek infrastruktur strategis nasional secara efisien.
Faktanya, dominasi portofolio di sektor infrastruktur menyumbang 55,53% dari total kontrak baru perusahaan yang mencapai Rp 4 triliun pada 2026. Selain itu, sektor industri menyumbang 17,19%, sektor kelistrikan 11,17%, serta sektor pendukung lainnya sebesar 16,11%.
Strategi Jaga Laba Wika Beton Melalui Transformasi Produksi
Wika Beton menerapkan transformasi proses produksi secara masif selama dua tahun terakhir untuk meningkatkan efisiensi operasional. Kuntjara menegaskan bahwa perusahaan benar-benar menjalankan prinsip lean process guna menekan biaya produksi dan meminimalisir pemborosan material konstruksi.
Selain itu, perusahaan memanfaatkan teknologi digital seperti perangkat lunak konstruksi dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengendalikan biaya operasional secara ketat. Langkah ini terbukti efektif dalam menekan angka waste yang sering menjadi kendala utama dalam proyek konstruksi berskala besar.
Lebih dari itu, Wika Beton kini menggunakan material ramah lingkungan berupa fly ash sebagai pengganti sebagian komponen semen. Perusahaan memastikan bahwa penggunaan material ini tetap menjaga kekuatan beton melalui pengaturan komposisi yang tepat setelah perubahan regulasi mengizinkan pemanfaatannya.
Peran Wika Beton dalam Proyek Infrastruktur Strategis
Kiprah perusahaan dalam proyek nasional seperti MRT dan LRT Jakarta membuktikan posisi tawar Wika Beton yang kuat. Tim perseroan menyuplai berbagai komponen krusial seperti box girder, spun pile, bantalan rel, hingga ballast-less slab track untuk menunjang stabilitas struktur.
Proyek-proyek tersebut mencakup LRT Fase 1A dan 1B serta dukungan untuk MRT Fase 2A CP205. Dengan keterlibatan langsung pada proyek-proyek vital tersebut, perusahaan mampu mengamankan aliran pendapatan yang stabil meskipun tantangan makro ekonomi terus meningkat pada 2026.
Menariknya, basis pelanggan Wika Beton juga memperlihatkan diversifikasi yang sehat. Sektor swasta mendominasi porsi pelanggan dengan angka 54,86%, disusul BUMN sebesar 21,65%, skema KSO/JO sebesar 18,32%, dan serapan internal induk usaha sebesar 5,17%.
Kinerja Finansial dan Perbaikan Struktur Modal
Meskipun angka laba bersih Rp 40,02 miliar pada 2026 mengalami penurunan 38% dibandingkan capaian Rp 65 miliar pada 2025, perusahaan berhasil memperbaiki fundamental keuangan. Pendapatan usaha tercatat berada di level Rp 3,59 triliun, turun dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,9 triliun.
Wika Beton sukses melakukan aksi deleveraging atau pengurangan utang secara signifikan untuk memperkuat neraca keuangan. Berikut adalah data perbandingan posisi utang dan kesehatan finansial perusahaan:
| Keterangan | Tahun 2024 | Tahun 2026 |
|---|---|---|
| Total Liabilitas | Rp 3,5 Triliun | Rp 2,60 Triliun |
| Debt to Equity Ratio (DER) | 95,15% | 70,66% |
Perusahaan melunasi sebagian utang usaha senilai Rp 548,64 miliar serta mengurangi utang jangka panjang sebesar Rp 134,32 miliar. Alhasil, rasio utang terhadap ekuitas turun ke level 70,66% dan tingkat likuiditas membaik dengan peningkatan current ratio ke level 130,42%.
Inovasi berkelanjutan sebagai Kunci Masa Depan
Inovasi baik dari sisi produksi maupun proses bisnis menjadi fondasi utama Wika Beton dalam menghadapi ketidakpastian pasar tahun 2026. Manajemen meyakini bahwa langkah efisiensi yang perusahaan lakukan akan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan perusahaan.
Pada akhirnya, kombinasi antara diversifikasi pelanggan, digitalisasi manajemen konstruksi, dan kedisiplinan dalam mengelola utang menjadi tameng utama bagi Wika Beton. Perusahaan tetap optimistis mampu menjaga pertumbuhan positif serta memberikan nilai terbaik bagi para pemangku kepentingan meskipun dalam kondisi ekonomi yang menantang.