Beranda » Berita » Kesulitan dapat kemasan plastik bayangi industri pangan 2026

Kesulitan dapat kemasan plastik bayangi industri pangan 2026

Sarimulya.id – Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food, Ghimoyo, mengungkapkan masalah akut mengenai kesulitan dapat kemasan plastik dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR pada Selasa, 7 April 2026. Perseroan mendapati pasokan kemasan yang krusial bagi operasional distribusi pangan terhambat cukup parah di lapangan.

Kondisi ini praktis menghambat kelancaran operasional perusahaan pangan pelat merah tersebut. Padahal, penggunaan kemasan berbahan dasar plastik mencakup kebutuhan vital mulai dari beras, minyak goreng, hingga pupuk subsidi untuk petani di berbagai wilayah Indonesia per 2026.

Ghimoyo menekankan bahwa produsen plastik saat ini menghadapi kelangkaan bahan baku utama yang sangat intens. Hal tersebut terjadi akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu gangguan distribusi energi global secara signifikan.

Penyebab kesulitan dapat kemasan plastik global

Bahan baku utama plastik berupa nafta—turunan minyak bumi—mengalami lonjakan harga yang tajam di pasar internasional. Mengingat sebagian besar kebutuhan nafta nasional masih bergantung pada impor asal Timur Tengah, gangguan tersebut memukul industri manufaktur plastik dalam negeri dengan keras.

Menteri Perdagangan Budi Santoso, saat meninjau wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah pada Kamis, 2 April 2026, menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia kini aktif mencari alternatif sumber pasokan nafta selain dari Timur Tengah. Pemerintah menargetkan India, Afrika, dan Amerika Serikat sebagai calon mitra pemasok bahan baku baru guna memastikan stabilitas produksi tetap terjaga di dalam negeri.

Negosiasi dengan para mitra potensial tersebut sedang berjalan pada masa saat ini. Akan tetapi, penyelesaian kontrak serta penataan logistik distribusi memerlukan waktu yang tidak singkat sehingga kelangkaan bahan baku masih terasa hingga periode kuartal kedua 2026.

Baca Juga:  UNIFIL Berduka: Menlu Pastikan Pemulangan Jenazah Prajurit TNI

Dampak konflik IranIsrael terhadap harga

Perang antara Iran dan Israel memicu hambatan distribusi energi serta bahan kimia yang masif. Alhasil, pelaku pasar global merespons kondisi ini dengan menaikkan harga komoditas plastik secara drastis dalam waktu singkat. Ghimoyo menegaskan bahwa bagi industri pangan, ketiadaan kemasan plastik menjadi masalah yang jauh lebih krusial daripada sekadar fluktuasi harga komoditas pangan itu sendiri.

Selain ancaman pasokan dari Timur Tengah, Budi Santoso juga menyoroti masalah produksi di beberapa negara utama pengekspor plastik dunia. Fasilitas manufaktur di Singapura, Thailand, Korea Selatan, serta Taiwan secara resmi menyatakan kondisi force majeure sehingga mereka tidak mampu memenuhi kontrak pasokan plastik yang sebelumnya telah tercatat.

Siklus lonjakan harga kemasan di pasar lokal

Zubaedah, seorang pemilik toko plastik di Kabupaten Sukoharjo, membagikan fakta mengenai dampak kenaikan harga yang memberatkan pelaku usaha kecil. Lonjakan harga komoditas ini sudah terasa sejak sebelum Lebaran 2026. Data di lapangan menunjukkan kenaikan harga yang stabil namun signifikan sepanjang tahun berjalan.

Tabel berikut memaparkan perbandingan harga rata-rata kemasan plastik di tingkat pengecer berdasarkan pantauan hingga 2026:

Jenis Kemasan Harga Sebelum Lebaran 2026 Harga Pasca Lebaran 2026
Plastik Kemasan Kualitas Bagus Rp 7.000 per pack Rp 10.000 per pack
Plastik Cup Rp 8.000 per pack Rp 13.000 per pack

Zubaedah menambahkan bahwa sebelum Lebaran 2026, harga plastik mengalami kenaikan rata-rata sebesar 30 persen dibandingkan harga normal. Setelah periode Lebaran berlalu, angka kenaikan melonjak hingga mencapai kisaran 70 persen.

Langkah pemerintah menstabilkan rantai pasok

Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap masalah stabilitas harga kemasan plastik untuk melindungi masyarakat luas. Menteri Perdagangan terus mengupayakan dialog dengan berbagai negara sahabat agar aliran bahan baku nafta tetap masuk ke Indonesia meskipun situasi geopolitik sedang memanas.

Baca Juga:  Pengajuan Kartu Kredit Bank Mega Online: Proses 5 Menit 2026

Kemandirian dalam sektor bahan baku menjadi tantangan besar bagi industri manufaktur Indonesia ke depan. Tidak hanya itu, sinergi lintas negara menjadi kunci penentu agar ketergantungan pada satu wilayah geografis tertentu bisa berkurang secara bertahap.

Meskipun tantangan pasokan energi global masih membayangi, pemerintah terus mendorong agar distribusi pupuk, beras, dan produk pangan lainnya tetap berjalan lancar. Harapannya, konflik yang memicu masalah rantai pasok ini segera berakhir agar harga komoditas plastik kembali normal bagi pelaku usaha menengah kecil dan besar.

Kesimpulannya, sektor pangan menghadapi tantangan berat akibat kelangkaan bahan baku plastik per 2026. Pemerintah kini tengah berpacu dengan waktu dalam negosiasi internasional demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan kemasan yang vital bagi keberlangsungan distribusi logistik pangan nasional.