Beranda » Berita » Krisis Pupuk Global: Selat Hormuz Ditutup, Pangan Terancam!

Krisis Pupuk Global: Selat Hormuz Ditutup, Pangan Terancam!

Sarimulya.id – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran per 28 Februari 2026, sebagai respons atas serangan AS-Israel, memicu kekhawatiran baru terkait krisis pupuk global. Situasi ini mengancam ketahanan pangan dunia, terutama dengan terganggunya rantai pasok pupuk dan melonjaknya harga.

Tidak hanya sektor energi yang merasakan dampaknya, melainkan juga sektor pertanian global. Gangguan signifikan pada pasokan pupuk mendorong risiko krisis pangan yang lebih besar dari tahun 2022, saat konflik Rusia-Ukraina berkecamuk. Lalu, bagaimana dampak penutupan Selat Hormuz ini akan mempengaruhi petani dan konsumen di seluruh dunia?

Dampak Penutupan Selat Hormuz Terhadap Pasokan Pupuk Global

Hampir lumpuhnya lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz telah mengganggu sekitar 38 persen pasokan pupuk berbasis nitrat global. Selain itu, 20 persen pupuk berbasis fosfat juga terkena imbasnya. Akibatnya, timbul risiko langsung terhadap ketahanan pangan para petani di berbagai negara.

Data terbaru 2026 dari perusahaan analisis Kpler dan CRU menunjukkan bahwa krisis di Timur Tengah, yang merupakan pusat pasokan pupuk dan energi dunia, terus memburuk setiap harinya. Penutupan Selat Hormuz mengakibatkan kontraksi sebesar 33 persen pada rantai pasok pupuk global. Ekspor urea dari kawasan tersebut sebesar 22 juta ton per tahun juga terhenti.

Sekitar 46 persen pasokan urea global berasal dari kawasan Teluk. Dengan demikian, penghentian ekspor urea semakin memperparah krisis.

Kemacetan Pengiriman dan Potensi Gagal Panen 2026

Sekitar setengah dari lebih dari 2,1 juta ton stok urea dalam dua tahun terakhir tidak dapat dimuat ke kapal akibat gangguan logistik. Para ahli memperingatkan bahwa kemacetan pengiriman ini berpotensi menyebabkan gagal panen di tengah musim panen global 2026.

Baca Juga:  Kasus Amsal Sitepu Ancam Industri Kreatif, Ini Kata Kemenko PM!

Keberlanjutan produksi pertanian modern sangat bergantung pada pasokan lebih dari 190 juta ton produk nutrisi tanaman yang digunakan setiap tahun di seluruh dunia, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Sebagian besar pasokan tersebut terdiri atas 110 juta ton pupuk nitrogen. Akan tetapi, jenis pupuk ini menjadi yang paling rentan terhadap krisis geopolitik karena ketergantungannya yang tinggi pada gas alam sebagai bahan baku.

Kapal tanker Shenlong berbendera Liberia, yang membawa minyak mentah dari Arab Saudi ke India melalui Selat Hormuz, tiba di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India, 12 Maret 2026, menggambarkan betapa krusialnya jalur ini.

Lonjakan Harga Pupuk Picu Kekhawatiran Petani

Fluktuasi harga energi menempatkan segmen terbesar pasar pupuk global di bawah tekanan biaya tinggi. Selain pupuk berbasis nitrogen, dua produk utama lainnya adalah pupuk berbasis fosfor dan kalium yang masing-masing menyumbang 45 juta ton dan 40 juta ton.

Para ahli menyatakan bahwa gangguan sekecil apa pun dalam rantai pasok tiga input pertanian utama tersebut dapat menyebabkan penurunan produksi tanaman global yang sulit dipulihkan. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini?

Peran Strategis Selat Hormuz dalam Distribusi Bahan Baku Pertanian

Selat Hormuz bukan sekadar jalur energi, tetapi juga rute transportasi paling penting di dunia untuk bahan baku strategis seperti urea dan amonia. Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain merupakan pemasok utama pupuk nitrogen global, bersama Iran.

Memasuki musim tanam di belahan bumi utara, gangguan jalur pelayaran berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian dan pasokan pangan update 2026. Sementara itu, harga gas alam, yang menyumbang sekitar 80 persen biaya produksi pupuk nitrogen, melonjak tajam dan mendorong sejumlah fasilitas besar menghentikan operasi.

Baca Juga:  Kantor PWI Dirusak - Teror Wartawan Bangka Belitung?

Dampak Kenaikan Harga Urea dan Amonia

Harga urea dan amonia mengalami kenaikan signifikan setelah penutupan jalur tersebut. Harga urea naik dari 482,5 dolar AS per ton pada 27 Februari 2026 menjadi 720 dolar AS pada pertengahan Maret 2026, atau meningkat sekitar 50 persen. Harga amonia di Timur Tengah juga naik 24 persen hingga mendekati 600 dolar AS per ton.

Ketahanan pasokan global kini terancam akibat serangan militer terhadap infrastruktur energi regional serta deklarasi *force majeure* berulang oleh perusahaan energi. Situasi ini memerlukan respons cepat dan terkoordinasi dari semua pihak terkait.

Kesimpulan

Penutupan Selat Hormuz dan dampaknya pada pasokan pupuk global menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dunia di tahun 2026. Kenaikan harga, gangguan rantai pasok, dan potensi gagal panen memerlukan solusi komprehensif dan kerjasama global untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau bagi semua.