Sarimulya.id – Puluhan warga Kampung Pasir Eurih, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terpaksa mengungsi akibat longsor yang terjadi pada Sabtu, 11 April 2026. Bencana ini dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan tanah dan batu besar dari Gunung Ranggasena longsor.
Meskipun tidak ada korban jiwa, peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran dan memaksa 24 jiwa dari delapan kepala keluarga (KK) mengungsi ke tempat yang lebih aman. Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat.
Penyebab Longsor Bandung Barat di Gunung Ranggasena
Agus menjelaskan bahwa mahkota longsor berada di tebing Gunung Ranggasena. Material longsor berupa tanah bercampur air disertai batu-batu besar meluncur dari atas, menimbun sawah, dan mendekati pemukiman warga.
“Menurut kesaksian warga, sempat terdengar suara ledakan sebelum longsor terjadi. Kemungkinan ada aliran air yang tersumbat di atas, lalu menimbulkan tekanan dan akhirnya longsor,” jelas Agus.
Dampak Longsor: Sawah Tertimbun, Warga Mengungsi
Akibat longsor ini, sawah seluas kurang lebih 2.000 meter persegi tertimbun material longsor. Meski tidak ada rumah yang roboh, material longsor mendekati dua rumah warga, sehingga delapan KK yang tinggal di sekitar lokasi longsor dievakuasi untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.
“Dari mahkota longsor di atas, sekitar 200-300 meter sampai batas pemukiman, ada dua rumah. Alhamdulillah tidak sampai merobohkan rumah. Kerusakan hanya sawah saja,” tutur Agus.
Tidak hanya itu, longsor juga menimbulkan trauma bagi warga sekitar. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya memberikan pendampingan psikologis dan bantuan logistik untuk meringankan beban para pengungsi.
Bantuan dan Penanganan dari Pemerintah Daerah
BPBD KBB telah menyalurkan bantuan dasar kepada para pengungsi. Selain itu, pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi dan memberikan peringatan kepada warga, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah tersebut. “Untuk bantuan dasar sudah disalurkan BPBD. Kami juga terus memantau dan mengingatkan warga karena cuacanya akhir-akhir ini cukup ekstrem. Sekarang juga sedang hujan,” terang Agus.
Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI dan Polri, untuk membantu proses evakuasi dan penanganan longsor. Upaya pembersihan material longsor juga terus dilakukan agar aktivitas warga dapat kembali normal secepatnya.
Antisipasi Bencana Susulan: Imbauan untuk Warga
Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu, pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan. Warga juga diminta untuk segera melaporkan kepada petugas jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau potensi longsor lainnya.
Beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan warga antara lain:
- Memantau kondisi lingkungan sekitar rumah secara berkala.
- Membersihkan saluran air dari sampah dan material lain yang bisa menyumbat aliran air.
- Menghindari aktivitas di lereng curam saat hujan deras.
- Segera mengungsi jika melihat tanda-tanda longsor.
Meski begitu, penting bagi pemerintah daerah juga untuk melakukan kajian mendalam tentang penyebab longsor dan mencari solusi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan reboisasi di lahan-lahan kritis di sekitar Gunung Ranggasena.
Dampak Ekonomi dan Psikologis Longsor Bandung Barat
Selain kerusakan fisik, longsor ini juga berdampak pada perekonomian warga, terutama para petani yang sawahnya tertimbun material longsor. Pemerintah daerah berjanji akan memberikan bantuan modal atau bibit tanaman kepada para petani agar mereka dapat segera memulai kembali aktivitas pertanian.
Longsor Bandung Barat ini juga mempengaruhi psikologis warga yang mengungsi. Rasa takut dan trauma akibat kejadian ini bisa berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, pendampingan psikologis sangat penting untuk membantu warga mengatasi trauma dan kembali menjalani kehidupan normal.
Faktanya, kejadian longsor ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengurangi risiko bencana dan melindungi diri dari dampak buruknya.
Kesimpulan
Longsor di Bandung Barat pada April 2026 menjadi pengingat akan kerentanan wilayah Indonesia terhadap bencana alam. Meski tidak ada korban jiwa, puluhan warga harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian. Pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah penanganan darurat dan berjanji akan memberikan bantuan kepada para korban. Akan tetapi, upaya pencegahan dan mitigasi bencana harus terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.