Beranda » Berita » Nilai transaksi aset kripto 2026 turun ke level Rp482,23 T

Nilai transaksi aset kripto 2026 turun ke level Rp482,23 T

Sarimulya.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan total nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp482,23 triliun sepanjang 2026. Angka ini menandakan penurunan sebesar 25,9 persen dibandingkan posisi tahun 2024 yang saat itu menyentuh angka Rp650,61 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso menyampaikan informasi ini dalam acara Bulan Literasi Kripto 2026 di Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/4). Data ini menegaskan dinamika pergerakan pasar aset kripto tanah air yang memang cukup fluktuatif dalam lima tahun terakhir.

Selain itu, Adi menjelaskan perubahan angka tersebut terjadi karena berbagai faktor eksternal maupun internal pasar. Pihak regulator terus memantau setiap pergerakan pasar keuangan secara seksama untuk menjaga stabilitas ekosistem digital di Indonesia.

Penyebab penurunan nilai transaksi aset kripto

Adi mengungkapkan, ketegangan geopolitik dunia memberikan dampak nyata bagi iklim investasi digital tanah air. Situasi tersebut memicu banyak investor dunia mengambil sikap berhati-hati dalam menempatkan modal mereka.

Pertama, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China menciptakan ketidakpastian pasar yang signifikan. Kedua, konflik di Timur Tengah turut memperburuk situasi keamanan investasi global. Alhasil, pelaku pasar memilih perilaku risk off sentiment sehingga likuiditas aset kripto cenderung menyusut secara global.

Lebih dari itu, kebijakan moneter berupa suku bunga tinggi di Amerika Serikat memperkuat tekanan ini. Kondisi tersebut mendorong banyak investor melakukan likuidasi besar-besaran pada posisi leverage mereka di pasar kripto. Fakta ini membuktikan betapa pergerakan ekonomi global sangat mempengaruhi pasar aset kripto lokal di Indonesia.

Baca Juga:  Cara Dapat Saldo DANA Gratis Rp250.000 Secara Resmi dan Legal di 2026

Data perbandingan nilai transaksi aset kripto

Berikut ringkasan perbandingan nilai transaksi aset kripto yang OJK sampaikan dalam laporan tahun 2026 sebagai bahan evaluasi pelaku pasar.

Periode Tahun Nilai Transaksi (Triliun Rupiah)
Tahun 2024 Rp650,61
Tahun 2026 Rp482,23
Selisih Penurunan Rp168,38 (25,9%)

Kepercayaan investor di tengah fluktuasi pasar

Meski otoritas mencatat penurunan nilai transaksi, Adi menegaskan keyakinan masyarakat tetap terjaga. Buktinya, jumlah akun investor di Indonesia terus menanjak dan mencerminkan antusiasme yang kuat terhadap teknologi keuangan ini.

Data terakhir menunjukkan sebanyak 21,07 juta akun investor aktif di Indonesia per Februari 2026. Angka ini menggambarkan bahwa ekosistem aset kripto masih memiliki daya tarik besar bagi masyarakat luas sebagai sarana diversifikasi portofolio keuangan mereka.

Selanjutnya, regulator melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa inklusi keuangan digital berkembang pesat. Kepercayaan publik yang tinggi menjadi modal utama bagi Indonesia untuk memperkuat infrastruktur dan keamanan pasar kripto di masa depan.

Sumbangsih pajak aset kripto bagi negara

Selain mengamati volume pasar, pemerintah juga memperoleh manfaat ekonomi langsung melalui instrumen pajak. Direktorat Jenderal Pajak mencatat kontribusi yang cukup signifikan dari sektor ini terhadap kas negara.

Pada tahun 2025, sektor aset kripto menyumbang setoran pajak sebesar Rp796,73 miliar. Kemudian, perkembangan positif berlanjut hingga Februari 2026 dengan perolehan pajak mencapai Rp1,96 triliun.

Angka-angka ini membuktikan potensi ekonomi dari sektor aset keuangan digital. Dengan pengawasan yang makin matang dari OJK, pemerintah mengharapkan sektor ini bisa terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui kontribusi yang lebih stabil di masa mendatang.

Sebagai penutup, tantangan geopolitik memang memaksa pasar kripto untuk beradaptasi dengan perubahan likuiditas global. Namun, jumlah investor yang menyentuh 21,07 juta akun memberikan sinyal optimisme bagi masa depan ekonomi digital di Indonesia. Konsistensi dalam edukasi dan literasi akan menjadi kunci agar masyarakat makin bijak dalam menavigasi volatilitas pasar di tahun-tahun berikutnya.

Baca Juga:  Cara Upgrade DANA Premium Mudah dan Cepat (2026)