Beranda » Berita » Selat Hormuz: Iran Batasi Kapal, Biaya Meroket di 2026

Selat Hormuz: Iran Batasi Kapal, Biaya Meroket di 2026

Sarimulya.idIran berencana membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz hingga maksimal 12 unit per hari per 2026. Pembatasan ini berpotensi mendongkrak biaya pelayaran hingga mencapai 2 juta dolar AS (sekitar Rp 34,2 miliar) per kapal tanker raksasa.

Informasi ini terungkap dari laporan The Wall Street Journal. Saat ini, sejumlah pemilik kapal dari berbagai negara dilaporkan tengah bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) agar kapal mereka bisa melintasi Selat Hormuz.

Negosiasi Pelayaran Selat Hormuz oleh IRGC

Pembatasan jumlah kapal dan keharusan mengikuti jalur khusus ini tentu akan berdampak signifikan pada biaya operasional. Biaya tambahan sebesar Rp 34,2 miliar per tanker bisa menjadi beban berat bagi perusahaan pelayaran.

Dampak Pembatasan Kapal di Selat Hormuz per 2026

Lalu, apa sebenarnya dampak dari pembatasan ini? Pembatasan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global. Selat ini merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG).

Sekitar 20 persen pasokan energi dunia melewati Selat Hormuz. Jika lalu lintas terhambat, harga energi dunia bisa melonjak. Hal ini tentu akan memengaruhi berbagai sektor industri dan ekonomi di berbagai negara.

Sejarah Konflik dan Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Pada masa lalu, Selat Hormuz kerap menjadi titik panas dalam berbagai konflik. Bahkan, beberapa waktu lalu, tepatnya Rabu (8/4) 2024, Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, sempat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.

Baca Juga:  Meta Google Langgar PP Tunas? Ini Kata Menkominfo!

Kemudian, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pembukaan ini diharapkan bisa melancarkan kembali lalu lintas energi dunia.

Tarif Selat Hormuz dengan Rial Iran: Ancaman Petrodolar?

Beberapa waktu lalu, muncul wacana Iran akan mengenakan tarif Selat Hormuz menggunakan mata uang Rial. Gagasan ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan potensi ancaman terhadap dominasi petrodolar.

Jika Iran benar-benar menerapkan tarif dalam Rial, negara-negara pengimpor energi dari kawasan tersebut harus memiliki cadangan Rial dalam jumlah besar. Hal ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi energi global. Apakah kebijakan ini akan berlanjut di 2026?

Prospek dan Implikasi Kebijakan Selat Hormuz Terbaru 2026

Kebijakan pembatasan kapal di Selat Hormuz oleh Iran pada 2026 ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Apa saja implikasi jangka panjangnya bagi ekonomi global? Bagaimana dampaknya terhadap hubungan internasional di kawasan Timur Tengah?

Yang jelas, pembatasan ini akan memaksa perusahaan pelayaran untuk mencari alternatif rute atau cara lain untuk mengurangi biaya operasional. Mungkin saja akan ada peningkatan efisiensi dalam logistik atau bahkan pengembangan teknologi baru di bidang pelayaran.

Kesimpulan

Singkatnya, pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz oleh Iran per 2026 akan membawa konsekuensi yang signifikan. Kenaikan biaya pelayaran, potensi gangguan rantai pasokan energi, dan perubahan dinamika geopolitik di kawasan tersebut menjadi beberapa hal yang perlu diantisipasi.